KUDUS, Minggu (4/10/2026) — Di tengah beragamnya pilihan makanan modern, Lentog Tanjung masih menjadi salah satu kuliner tradisional yang dapat ditemukan di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Makanan khas ini terbuat dari lontong yang disajikan bersama sayur nangka muda, tahu, dan kuah santan. Perpaduan bahan tersebut menghasilkan cita rasa khas yang membuat Lentog Tanjung dikenal sebagai salah satu kuliner favorit masyarakat Kudus.
Lentog Tanjung berasal dari Desa Tanjungkarang, Kabupaten Kudus. Seiring berjalannya waktu, kuliner ini semakin dikenal masyarakat dan penjualannya telah menyebar ke berbagai wilayah di Kudus. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya dapat menemukan Lentog Tanjung di daerah asalnya, tetapi juga di berbagai tempat penjualan lainnya.
Salah satu tempat yang menjual kuliner tersebut adalah Lentog Tanjung Pak Solikin yang berlokasi di Jalan GOR, Wergu Wetan, Kecamatan Kota Kudus, tepatnya di belakang Taman Krida. Tempat penjualannya berupa warung sederhana yang digunakan untuk menyiapkan dan menyajikan hidangan kepada pembeli.
Salah satu penjual di tempat tersebut, Bu Giana, telah menjalankan usaha Lentog Tanjung sejak tahun 1984. Selama menjalankan usaha itu, Bu Giana mengaku merasa nyaman berjualan kuliner tradisional tersebut.
Saat ini, satu porsi Lentog Tanjung dijual dengan harga Rp7.000. Dalam sehari, sekitar 50 porsi dapat terjual. Meskipun masih memiliki pembeli, Bu Giana mengungkapkan bahwa kondisi penjualan sekarang tidak seramai dahulu. “Kalau sekarang, sudah tidak seramai dulu,” ungkapnya.
Untuk mempertahankan usahanya, Bu Giana berusaha menjaga kualitas Lentog Tanjung yang dijual. Menurutnya, kualitas makanan menjadi hal penting agar usaha tetap berjalan. “Yang penting mempertahankan kualitas,” ujarnya.
Bu
Giana juga berharap usahanya dapat terus berkembang dan semakin banyak generasi
muda yang menyukai Lentog Tanjung. “Semoga sukses dan semakin banyak generasi
muda yang suka,” tuturnya.
Ketertarikan masyarakat terhadap Lentog Tanjung juga terlihat dari kebiasaan mengonsumsinya. Salah seorang warga yang diwawancarai mengaku mengonsumsi Lentog Tanjung sekitar dua kali dalam seminggu. Menurutnya, makanan ini memiliki rasa yang enak, mengenyangkan, serta dijual dengan harga yang terjangkau. “Rasanya enak, mengenyangkan, dan harganya juga terjangkau,” ungkapnya.
Warga tersebut menilai bahwa Lentog Tanjung masih diminati oleh generasi muda, meskipun jumlahnya belum terlalu banyak. Sebagai makanan tradisional khas Kudus, Lentog Tanjung perlu terus diperkenalkan agar tetap dikenal di tengah beragamnya pilihan makanan modern.
Ia
berpendapat bahwa cita rasa khas Lentog Tanjung perlu dipertahankan agar
kuliner tersebut tetap diminati oleh masyarakat, khususnya generasi muda.
Selain itu, pelayanan yang ramah juga dinilai penting untuk membuat pembeli
merasa nyaman dan tertarik untuk kembali membeli.
Keberadaan
Lentog Tanjung Pak Solikin yang telah berjualan sejak 1984 menjadi salah satu
contoh bertahannya usaha kuliner tradisional di Kudus. Dengan menjaga kualitas
dan cita rasa serta memberikan pelayanan yang baik, Lentog Tanjung diharapkan
tetap dikenal masyarakat dan semakin diminati oleh generasi muda. Pelestarian
kuliner tradisional ini juga menjadi salah satu cara untuk menjaga kekayaan
kuliner khas Kabupaten Kudus agar tetap dikenal oleh generasi berikutnya.





.jpeg)


.jpeg)

.jpeg)





.jpeg)





