Jumat, 09 Oktober 2026

Lentog Tanjung, Kuliner Khas Kudus yang Tetap Eksis di Tengah Perkembangan Zaman

 

Lentog Tanjung, Kuliner Khas Kudus yang Tetap Eksis di Tengah Perkembangan Zaman



Tempat Lentog Tanjung

KUDUS, Minggu (4/10/2026) — Di tengah beragamnya pilihan makanan modern, Lentog Tanjung masih menjadi salah satu kuliner tradisional yang dapat ditemukan di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Makanan khas ini terbuat dari lontong yang disajikan bersama sayur nangka muda, tahu, dan kuah santan. Perpaduan bahan tersebut menghasilkan cita rasa khas yang membuat Lentog Tanjung dikenal sebagai salah satu kuliner favorit masyarakat Kudus.

Lentog Tanjung berasal dari Desa Tanjungkarang, Kabupaten Kudus. Seiring berjalannya waktu, kuliner ini semakin dikenal masyarakat dan penjualannya telah menyebar ke berbagai wilayah di Kudus. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya dapat menemukan Lentog Tanjung di daerah asalnya, tetapi juga di berbagai tempat penjualan lainnya.

Salah satu tempat yang menjual kuliner tersebut adalah Lentog Tanjung Pak Solikin yang berlokasi di Jalan GOR, Wergu Wetan, Kecamatan Kota Kudus, tepatnya di belakang Taman Krida. Tempat penjualannya berupa warung sederhana yang digunakan untuk menyiapkan dan menyajikan hidangan kepada pembeli.

Salah satu penjual di tempat tersebut, Bu Giana, telah menjalankan usaha Lentog Tanjung sejak tahun 1984. Selama menjalankan usaha itu, Bu Giana mengaku merasa nyaman berjualan kuliner tradisional tersebut.

Saat ini, satu porsi Lentog Tanjung dijual dengan harga Rp7.000. Dalam sehari, sekitar 50 porsi dapat terjual. Meskipun masih memiliki pembeli, Bu Giana mengungkapkan bahwa kondisi penjualan sekarang tidak seramai dahulu. “Kalau sekarang, sudah tidak seramai dulu,” ungkapnya.

Untuk mempertahankan usahanya, Bu Giana berusaha menjaga kualitas Lentog Tanjung yang dijual. Menurutnya, kualitas makanan menjadi hal penting agar usaha tetap berjalan. “Yang penting mempertahankan kualitas,” ujarnya.

Bu Giana juga berharap usahanya dapat terus berkembang dan semakin banyak generasi muda yang menyukai Lentog Tanjung. “Semoga sukses dan semakin banyak generasi muda yang suka,” tuturnya.


Wawancara dengan konsumen lentog tanjung

Ketertarikan masyarakat terhadap Lentog Tanjung juga terlihat dari kebiasaan mengonsumsinya. Salah seorang warga yang diwawancarai mengaku mengonsumsi Lentog Tanjung sekitar dua kali dalam seminggu. Menurutnya, makanan ini memiliki rasa yang enak, mengenyangkan, serta dijual dengan harga yang terjangkau. “Rasanya enak, mengenyangkan, dan harganya juga terjangkau,” ungkapnya.

Warga tersebut menilai bahwa Lentog Tanjung masih diminati oleh generasi muda, meskipun jumlahnya belum terlalu banyak. Sebagai makanan tradisional khas Kudus, Lentog Tanjung perlu terus diperkenalkan agar tetap dikenal di tengah beragamnya pilihan makanan modern.

Ia berpendapat bahwa cita rasa khas Lentog Tanjung perlu dipertahankan agar kuliner tersebut tetap diminati oleh masyarakat, khususnya generasi muda. Selain itu, pelayanan yang ramah juga dinilai penting untuk membuat pembeli merasa nyaman dan tertarik untuk kembali membeli.


Wawancara dengan penjual lentog tanjung

Keberadaan Lentog Tanjung Pak Solikin yang telah berjualan sejak 1984 menjadi salah satu contoh bertahannya usaha kuliner tradisional di Kudus. Dengan menjaga kualitas dan cita rasa serta memberikan pelayanan yang baik, Lentog Tanjung diharapkan tetap dikenal masyarakat dan semakin diminati oleh generasi muda. Pelestarian kuliner tradisional ini juga menjadi salah satu cara untuk menjaga kekayaan kuliner khas Kabupaten Kudus agar tetap dikenal oleh generasi berikutnya.



Strategi Panjang SMA 1 Kudus : Siapkan Kontingen Biologi Tangguh Jelang OSN 2027

 


Strategi Panjang SMA 1 Kudus: Siapkan Kontingen Biologi Tangguh Jelang OSN 2027


Wawancara dengan pembina OSN Biologi


KUDUS, Kamis (1/10/2026) Menyadari ketatnya persaingan di ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN), SMA Negeri 1 Kudus mulai mengambil langkah cepat. Tidak ingin sekadar berpartisipasi, pihak sekolah kini tengah mematangkan strategi pembinaan jangka panjang guna mencetak kontingen Biologi yang tangguh untuk menghadapi OSN tahun 2027 mendatang.

Persiapan awal ini dinilai krusial mengingat kompetisi sekelas OSN memiliki tingkat kesulitan tinggi dengan cakupan materi analitis yang sangat luas. Oleh karena itu, penguasaan materi diyakini membutuhkan pemahaman konsep yang matang melalui proses yang berkesinambungan.

Guru Pembimbing Ekstrakurikuler Biologi SMA Negeri 1 Kudus, Bu Nisa, mengungkapkan bahwa strategi pembinaan yang diterapkan berfokus pada siklus pemahaman konsep dan pengayaan latihan soal. Ia menyadari bahwa peserta tidak hanya dituntut untuk hafal materi, tetapi juga harus mampu menganalisis soal-soal tingkat lanjut.

"Untuk pembinaan OSN Biologi, pertama-tama kami ajarkan terlebih dahulu materi-materi besarnya. Nanti, setelah setiap materi selesai, pasti kami berikan latihan soal. Tujuannya untuk mereview apakah materi tersebut sudah dipahami atau masih membutuhkan pemahaman lebih lanjut. Jika dirasa kurang, akan dilanjutkan dengan pemberian materi ulang agar peserta lebih menguasai konsepnya," ungkap Bu Nisa saat menjelaskan tahapan awal pembinaannya.


Suasana ruang ekstra OSN Biologi

 Terdapat 5 Poin utama pembinaan dan evaluasi dalam menghadapi OSN 2027 :

1. Skala Prioritas Materi
Mengingat luasnya silabus yang harus dipelajari, pihak sekolah menerapkan sistem skala prioritas dalam penyampaian materi. Nisa memaparkan bahwa prioritas pertama jatuh pada materi yang secara statistik memiliki jumlah soal terbanyak saat kompetisi, yakni Fisiologi Hewan dan Manusia. Sementara itu, prioritas kedua diberikan kepada materi yang kerap dianggap paling sulit oleh para siswa, seperti Genetika dan Biologi Sel.

"Penentuan materi yang penting juga didasarkan pada komunikasi kami dengan anak-anak. Kami melihat secara langsung kira-kira di bagian mana mereka sangat membutuhkan pemahaman atau penjelasan yang lebih mendalam," tambahnya.

2. Inovasi Tahapan Seleksi
Lebih lanjut, Nisa memaparkan adanya inovasi pola seleksi menuju OSN 2027 jika dibandingkan dengan persiapan pada tahun-tahun sebelumnya. Apabila tahun lalu tahapan seleksi hanya dilakukan dua kali yakni pembentukan tim inti dan pelatihan di Olympiad Training Center (OTC)tahun ini prosesnya dibuat lebih berjenjang menjadi tiga tahapan.

"Pada tahun ini dilakukan tiga tahap seleksi. Dimulai dari seleksi khusus untuk siswa kelas 10, kemudian dilanjutkan dengan tahap pembentukan tim inti, dan barulah peserta masuk ke fase pelatihan di OTC. Selain itu, porsi latihan soal yang diperhitungkan nilainya juga akan diperbanyak," jelas Nisa.

Menurutnya, kendala terbesar yang kerap menjadi batu sandungan bagi peserta OSN Biologi adalah cakupan materinya yang sangat luas. Terkadang, materi yang disampaikan di kelas pembinaan hanya mewakili sebagian kecil dari variasi soal yang diujikan. Sebagai solusi, tim pembimbing mewajibkan peserta untuk memperbanyak simulasi dan memperkaya referensi bentuk soal yang mengacu pada soal-soal kompetisi terdahulu.

Seleksi persiapan tim inti OSN Biologi

3. Kesiapan dan Tantangan dari Sudut Pandang Siswa
Antusiasme tinggi tidak hanya datang dari jajaran guru pembimbing, tetapi juga dirasakan langsung oleh para siswa yang tergabung dalam ekstrakurikuler tersebut. Norine, selaku Ketua OSN Ekstrakurikuler Biologi, mengakui bahwa persiapan menuju tahun 2027 ini membawa tantangan tersendiri bagi dirinya dan rekan-rekan setimnya.

Menurut Norine, membagi waktu antara jadwal akademik sekolah yang padat dan materi olimpiade yang kompleks menuntut kedisiplinan tingkat tinggi. Kendati demikian, adanya pembinaan yang dimulai jauh-jauh hari membuat para siswa merasa jauh lebih siap menghadapi materi-materi berat seperti genetika dan fisiologi.

"Tantangannya memang cukup besar karena materinya sangat luas dan kita harus pintar-pintar membagi waktu belajar. Tapi dengan adanya tahapan seleksi yang jelas serta latihan soal rutin yang diberikan dari pembimbing setiap selesai materi, kami jadi bisa mengukur sejauh mana pemahaman kita sekaligus mengevaluasi nilai dari minggu ke minggu," ujar Norine saat ditemui di sela-sela kegiatan latihan.

4. Pemantauan dan Evaluasi Berkala
Sebagai langkah final untuk memastikan kesiapan kontingen, sekolah menerapkan sistem evaluasi yang ketat. Latihan soal tidak hanya diberikan pada akhir sesi materi, tetapi juga diakumulasikan dalam bentuk simulasi per sub-bab secara spesifik, seperti Biologi Sel dan Anatomi Fisiologi Manusia. Hal ini dilaksanakan secara efektif setelah seluruh materi dasar selesai diajarkan.

Melalui simulasi tersebut, progres akademis setiap siswa akan dipantau secara detail dari minggu ke minggu.

"Misalnya, dari materi ini nanti ada tes berisi 10 soal, lalu minggu depannya ada 10 soal lagi, nilainya akan kami cek terus. Jika memang terlihat ada penurunan yang sangat drastis, biasanya akan langsung dievaluasi oleh saya ataupun Bu Puji. Kami akan mencari tahu alasan penurunannya, apakah memang karena kesibukan tugas sekolah yang menumpuk atau ada masalah tertentu, sehingga bisa kita komunikasikan dan cari solusinya bersama-sama," pungkas bu Nisa.

Lentog Tanjung, Kuliner Khas Kudus yang Tetap Eksis di Tengah Perkembangan Zaman

  Lentog Tanjung, Kuliner Khas Kudus yang Tetap Eksis di Tengah Perkembangan Zaman Tempat Lentog Tanjung KUDUS, Minggu (4/10/2026) — Di teng...